Renungan 11 Juli 2011

9:51 PM

“Sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga”

(Ef 5:8-20; Mat 19:23-30)

“ Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu,sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin." Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu menjadi yang terakhir dan yang terakhir menjadi yang terdahulu ” (Mat 19:23-30) , demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Benediktus, Abas, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Orang kaya sekaligus pengusaha pada umumnya sibuk mengurusi pekerjaannya, yang mendominir isi otak dan hatinya adalah pekerjaan, usaha beserta produksinya serta uang sebagai penunjang usaha. Ia sering bepergian ke luar kota atau luar negeri, sarat dengan rapat-rapat, dst.., dengan kata lain boleh dikatakan kurang memberi waktu dan tenaga untuk hidup rohani. Memang ia terhormat dan disanjung-sanjung dalam kehidupan bermasyarakat, sementara itu orang miskin akan semakin terpinggir dan kurang diperhatikan. St.Benediktus yang kita kenangkan hari ini telah memiskinkan dirinya, mengikuti Yesus atau melaksanakan sabdaNya “Setiap orang yang karena namaKu meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal”. Sabda Yesus ini kiranya tidak hanya bagi Benediktus beserta para pengikutnya, melainkan bagi kita semua yang beriman kepadaNya, maka marilah kita renungkan dan hayati. Sabda ini bagi kita semua antara lain berarti menghayati dan memfungsikan aneka macam harta benda atau kekayaan duniawi sebagai sarana; sarana untuk semakin beriman atau semakin suci, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi. Dengan menghayati hal itu maka kita akan menerimanya berlipat ganda dari apa yang telah kita berikan kepada orang lain. Sabda Yesus di atas juga merupakan ajakan bagi kita semua untuk menghayati salah satu cirikhas hidup menggereja atau beriman kepada Yesus, yaitu “preferential option for/with the poor’ (=keberpihakan kepada/bersama yang miskin dan berkekurangan). Sabda di atas semoga juga menyentuh anak-anak atau generasi muda untuk menanggapi panggilan khusus sebagai imam, bruder atau suster.

· “Hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran” (Ef 5:8-9), demikian kutipan pesan Paulus kepada umat di Efesus. Hidup sebagai anak terang berarti hidup baik, suci dan berbudi pekerti luhur, sehingga cara hidup dan cara bertindaknya dimanapun dan kapanpun berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Sejauh maka kita sebagai orang beriman cara hidup dan cara bertindak kita berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran? Apa yang disebut baik, adil dan benar hemat saya berlaku sccara universal, kapan saja dan dimana saja, tiada batas ruang dan waktu, bahasa atau suku, dst… , sebagaimana Tuhan yang berkarya kapan saja dan dimana saja. Kita dipanggil untuk saling menerangi artinya kehadiran kita membuat orang lain semakin terang, kebersamaan hidup semakin enak dan nikmat serta menyelamatkan. Kami percaya para bapak-ibu atau suami-isteri memiliki pengalaman hidup dalam terang ini, saling berbuat baik, adil dan benar sebagai suami-isteri, maka hendaknya apa yang telah dialami tersebut diwariskan kepada anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan. Saya percaya seluruh anggota keluarga pada umumnya juga saling berbuat baik, adil dan benar, maka hendaknya apa yang telah dialami di dalam keluarga kemudian diperkembangkan dan diperdalam dalam kehidupan bersama yang lebih luas, dalam tempat kerja atau tempat belajar. Biarlah kebaikan, keadilan dan kebenaran terus menerus berlipat ganda, sehingga dambaan seluruh umat manusia akan perdamaian sejati segera menjadi nyata.

“Ia menyediakan pertolongan bagi orang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak tercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara orang-orangnya yang setia” (Ams 2:7-8)

Ign 11 Juli 2011


oleh Rm. I. Sumarya .SJ.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Subscribe