Sunday, August 7, 2011

Tips Menembus Kolom Opini di Koran

[Kompasiana]Menyumbang opini di media massa, khususnya koran, mungkin menjadi dambaan sebagian penulis. Entah menulis untuk  koran berskala nasional atau pun lokal, yang jelas ada prestise tersendiri bagi penulisnya serta kepuasan berbagi perspektif pada masyarakat. Namun, tentu obsesi ini takkan semulus yang kita prediksi, sebab kita akan bersaing dengan banyak penulis profesional.
Dalam upaya menulis di media arus utama ini, kita perlu banyak belajar dari orang lain tentang keberhasilan mereka menembus media massa. Minimal, kita membutuhkan cara mereka, membutuhkan strategi yang mereka gunakan selama ini untuk menembus rubrik-rubrik pilihan di media. Salah satu rubrik paling polpuler adalah opini, dimana banyak profesional begitu antusias menulis di sini. Karena itu, saya ingin berbagi beberapa tips tentang hal ini.
Saya ingin membagikan pengalaman dari Dirga Maulana, seorang Kompasioner. Beberapa tipsnya adalah:
1.      Perhatikan gaya penulisan media tersebut. Contohnya, jika teman-teman ingin tulisannya menembus kolom opini Jurnal Nasional, SINDO, dan Kompas, maka perhatikan gaya penulisan opini di koran tersebut, sebab masing-masing media mempunyai standar penulisan yang berbeda.
2.      Mengikuti isu yang berkembang di media tersebut, namun bukan semacam berita melainkan opini dengan perspektif. Sebagai penulis opini, kita dituntut cermat menghadirkan perspektif baru untuk mengurai persolan yang tengah terjadi melalui tulisan tersebut.
3.      Perbanyak referensi. Sebuah tulisan akan sulit menembus kolom opini jika referensinya kurang, entah itu data sebagai peneguh, atau teori yang digunakan dalam meracik perspektif tulisannya.
4.      Afiliasi dalam sebuah lembaga atau organisasi. Biasanya, background seorang penulis opini juga dipertimbangkan. Mungkin bisa teman-teman perhatikan, hampir semua kolom opini di media, diisi oleh orang-orang ternama alias punya keterkaitan langsung dengan tulisannya. Misalkan, Dirga, menulis tentang Media dan Pertunjukan Politik, sebab backgorundnya sebagai peneliti di Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM) UIN Jakarta.
5.      Lampirkan data diri penulis. Syarat yang satu ini juga penting. Jangan lupa cantumkan scan KTP atau tanda diri lainnya, nomor rekening (biasanya ada honor untuk penulis), dan foto diri (ingat yah, jangan foto abal-abal,hehe). Untuk syarat satu ini, dapat disesuaikan dengan permintaan media bersangkutan.
Sebagai pelengkap dari tips di atas, saya mengutip beberapa jurus menulis dari Ahmad Bahar tentang strategi menulis di media massa, di antranya;
1.      Mengenali Media. Menurut Bahar, pengenalan media ini diperlukan untuk mengetahui sejauh mana tulisan kita memungkinkan untuk dimuat di salah satu media yang kita tuju. Pada dasarnya, masing-masing media didirikan dengan sebuah idealisme dan cita-cita tersendiri. Efek dari idealisme ini, berpengaruh pada konten dan segmentasi pembaca. Jika kita ingin menembus sebuah media, maka kita perlu berkenalan dengan idealisme tersebut.
2.      Mengenal jenis tulisan yang akan kita kirim ke media. Jika menulis opini, kita perlu mengenal apa itu opini. Secara singkat, opini adalah gagasan, ulasan, atau kritik terhadap suatu persoalan yang tengah terjadi, kemudian ditulis dengan gaya ilmiah populer. Jadi, rasanya ngawur jika mengirim tulisan opini ke media dengan bahasa alay. Sebuah opini diharapkan mampu menghadirkan solusi ditengah perkara, bukan menambah kekusutan persoalan.
Bila anda sudah melakukan semua tips-tips di atas, harapan selanjutnya adalah berharap tulisan anda direspon positif oleh redaksi bersangkutan. Karena, sebagus apa pun tulisan anda, jika redaksi tak berkenan memuatnya, maka tulisan anda tak ada artinya.

That's all, selamat menulis.

0 komentar:

Pasang emoticon dibawah ini dengan mencantumkan kode di samping kanan gambar.

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n: :o: :p: :q:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More