Nyamuk Jantan Tanpa Sperma Bisa Cegah Penyebaran Malaria

2:06 AM

[detikhealth]London, Malaria masih menjadi salah satu penyakit yang sulit ditangani dan banyak menelan korban jiwa. Kini peneliti mengembangkan cara untuk membuat nyamuk jantan miskin atau tanpa sperma untuk mengendalikan penyebaran malaria.

Sebuah studi menemukan bahwa nyamuk Anopheles betina tidak mengetahui bahwa pejantan yang kawin dengannya subur atau tidak. Dan serangga betina ini hanya kawin sekali dalam hidupnya sebelum kemudian meletakkan sejumlah telurnya.

Jika nyamuk betina kawin dengan pejantan yang tidak memiliki sperma, maka telur yang dihasilkan akan 'kosong'. Telur tersebut tidak akan pernah menetas menjadi generasi baru nyamuk malaria pembawa penyakit.

"Dalam perang melawan malaria, banyak harapan untuk mengendalikan vektor nyamuk suatu hari akan menjadi bagian penting dari perlengkapan kita," jelas Dr Flaminia Catteruccia, pemimpin studi dari Imperial College London, seperti dilansir Dailymail, Selasa (9/8/2011).

Menurut Dr Catteruccia, agar teori strategi pengendalian saat ini bekerja, peneliti perlu memastikan bahwa serangga dapat kawin terus seperti biasa, sehingga tidak menyadari bahwa kita telah mengganggu mekanisme seksualnya.

"Studi ini sangat menunjukkan bahwa mereka tidak dapat membedakan antara pasangan subur dan spermless," jelas Dr Catteruccia.

Peneliti memproduksi 100 nyamuk jantan spermless untuk studi dengan menyuntikkan protein yang mengganggu perkembangan seksual jantan pada telur nyamuk.

Sebelumnya peneliti berpikir bahwa nyamuk betina dapat mengenali pejantan subur dan menghindari. Namun, hasil studi menunjukkan hal sebaliknya.

Para ilmuwan juga terkejut menemukan bahwa ketika bertemu pejantan spermless, nyamuk betina tidak berusaha menghindar untuk mencari pasangan pengganti yang subur.

Yang terpenting, meskipun nyamuk jantan dewasa tidak dapat menghasilkan sperma, peneliti mempertahankan kemampuan nyamuk untuk dapat kawin.

Penelitian ini difokuskan pada spesies nyamuk Anopheles gambiae yang bertanggung jawab untuk menyebarkan malaria di Afrika.

Hasil studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Scientists.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Subscribe